Rabu, 07 Maret 2012

Sukses itu Sederhana tapi tidak Mudah

Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana. Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi kenyataan. Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat.
Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya. 

Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses? Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya. Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula.

Nah, bagaimana pola sukses itu? Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:
1. Keyakinan Diri yang Positif 
Segalanya berawal dari sini. Ini citra diri anda. Self image. Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri? Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal? Anda orang baik atau orang buruk? Anda ganteng / cantik atau buruk rupa? Anda layak kaya atau layak miskin? Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas? Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya? Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat? Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak?

Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri. Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses. Anda orang baik. Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas. Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain. Tidak rendah diri. Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan.

Kenapa ini penting? Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu. Iya kan? 

2. Melakukan Keharusan. 

Langkah kedua adalah melakukan keharusan. Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit. Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan. Tapi sangat baik bila dilakukan.

Keharusan ini bersifat seperti imunisasi. Bayi harus diimunisasi. Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan. Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya. Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan.

Setiap orang harus bangun pagi-pagi. Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi. Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri. Setiap orang harus bisa berpikir. Setiap orang harus bisa memecahkan masalah. Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar.

Bila anda karyawan, anda harus disiplin. Taat aturan. Betapa pun aturan itu membuat anda kesal. Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu. Bila anda atlet, anda harus keras berlatih. Meski itu melelahkan.

Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda? Tidak!!! 100% tidak bisa sukses. 

3. Membentuk Kebiasaan Positif. 

Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Setiap orang harus bangun pagi. Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan. Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan. Keharusan anda belum menjadi kebiasaan. Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan. Sebuah kebiasaan positif harus benar-benar jelas.

Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu. Anda melakukan keharusan anda. Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan? Maka ini bukan kebiasaan. Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan. Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu. Satu kata yang benar-benar sangat menentukan.

Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda. Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah. Salah satu kurang, fondasi tak kuat. Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Sukses pun begitu. Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat. 

4. Membentuk Kebiasaan Produktif 

Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif. Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung. Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif.

Membaca buku itu positif. Apakah produktif? Tidak. Menulis buku lah yang produktif. Hasilnya jelas sebuah buku. Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan. Jadi ada hasilnya. Ada produknya. Anda benar. Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal. Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan. Produktif? Belum. Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu. Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli. 
Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif? Jelas tidak. Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif.

5. Berkompetisi. 

Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi. Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan. Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang. Segera bangkit ketika dikalahkan. Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

"Meraih sukses sulit. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit. Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti Anda" 

master motivasi.com

Jangan Berhenti karena Susah

Picture
Ada seseorang yang susah bangkit dari keterpurukan setelah di PHK. Dia mau mencari kerja, umur sudah tidak muda lagi. Dia mau menjalankan bisnis, tetapi sudah berkali-kali mencoba tidak ada satu pun yang berjalan terus. Dia selalu berhenti di tengah jalan.

Apa yang menjadikan dia selalu berhenti? Sederhana, karena dia begitu akrab dengan kata susah atau sulit. Dia berkata bahwa dia sudah berusaha, tapi ternyata sulit. “Ternyata susah juga untuk membangun bisnis.” Dan berbagai komentar lainnya yang bernada sulit.

Dia meminta nasihat kepada saya. Saya berikan beberapa nasihat. Apa jawabannya? Tidak lepas dari dua kata itu:

“Susah.”
“Sulit.”

Saya mencoba untuk memberikan inspirasi yang bercerita tentang seseorang yang berhasil membangun bisnis dengan berawal 1 buah gerobak bakso menjadi ratusan gerobak bakso. Saya jelaskan kalau orang ini merangkak dari nol dan sampai akhirnya berhasil.

Apa reaksi dia? Dia berkata:

“Saya sering mendengar cerita keberhasilan. Tapi sayang tidak diceritakan susahnya membangun bisnis.”

Dia terus berkata susah, sulit, susah, sulit, tidak mudah, dan sebagainya. Banyak orang yang seperti ini!

Jika Anda termasuk orang yang seperti ini, saya mau bertanya.

“Memang susah. Memang tidak mudah. Memang sulit. Lalu?”

Sahabat, coba pikirkan. Jika bisnis itu mudah. Tentu akan banyak sekali orang yang berbisnis dan kaya raya. Pada kenyataanya memang sedikit sekali orang yang mau berbisnis dan bertahan di bisnis. Karena memang, bisnis itu susah, bisnis itu sulit, dan perlu kerja keras untuk menjalankannya. Bisnis memang hanya untuk orang yang berani, tekun, sabar, dan mau kerja keras sampai berhasil.

Sekarang, pilihan Anda. Apakah mau melewati masa susah membangun bisnis atau tidak?

Jika Anda punya kemauan, maka ambillah tindakan. Jika susah, Anda bisa belajar. Jika tidak tahu, Anda bisa mencari tahu. Jika lama, Anda bisa bersabar. Jika tidak punya modal, Anda bisa mencari modal. Jika tidak bisa mencari modal, Anda bisa belajar mencari modal. Allah sudah memberikan potensi kepada Anda. Anda punya hati, Anda punya akal, dan Anda punya energi. Gunakanlah.

Memang akan banyak menghadapi masalah. Tapi Allah sudah memberikan akal kepada kita untuk mengatasi masalah. Memang perlu kerja keras, tapi Allah sudah memberikan tangan dan kaki kepada kita untuk bekerja keras. Allah sudah memberikan sistem pencernaan yang bisa mengubah makanan menjadi energi. Apa lagi yang kurang?

Sahabat, jangan berhenti karena susah. Kita sudah diberik potensi yang dahsyat oleh Allah untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kesulitan memang untuk kita hadapi, untuk kita lewati, sebab kemudahan akan datang setelah kesulitan.

“Kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR Ahmad)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Alam Nasyrah: 5-6)

Sahabat, semua orang sukses pernah mengalami masa-masa susah. Mereka menghadapi kesulitan seperti kita. Hanya saja, mereka tidak berhenti. Oleh karena itu, kita pun sama, jangan berhenti karena susah.

Setipis Kulit Ari

Pasti anda semua pernah mendengar ungkapan, jarak antara benci dan cinta hanya setipis kulit ari. Bahkan ada lagu yang syairnya benci-benci tapi rindu, gimana tuh masa benci tapi rindu. Anda boleh tertawa, mengangguk-angguk pun boleh tapi yang saya bahas di sini bukan cinta atau benci. Gambaran cinta dan benci hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaknya dua pola yang berlainan dalam kehidupan kita. Misal, datang dan pergi, hidup dan mati, serta masih banyak lagi, saya yakin anda semua bisa menyebutkan lebih dari apa yang saya sebutkan. Namun kali ini bukan itu yang akan saya bagikan pada pembaca yang luar biasa. Mungkin anda pernah atau bahkan sering mendengar ucapan dari teman atau saudara “ Ahh, itu terlalu sulit untuk dilakukan, pasti nanti gagal.” Atau kalau boleh jujur kita sering mengucapkannya sendiri. Hayoo, tidak perlu mengernyitkan dahi :>

Saya pernah mendapatkan cerita yang menggelitik namun cukup membangkitkan rasa geregetan juga, masa kita manusia kalah dibandingkan katak. Pasti pembaca yang luar biasa penasaran. Boleh ya sekali-sekali saya mendongeng buat anda, yang penting jangan kalah sama katak yang satu ini. Begini ceritanya, suatu kala di perkampungan katak diadakan lomba memanjat menara yang menjulang tinggi di tengah-tengah perkampungan. Di hari perlombaan banyak katak muda berkumpul untuk membuktikan siapa yang terhebat bahkan mereka terlibat obrolan yang menonjolkan kemampuan masing-masing. Ada yang mengatakan sekali lompatan mampu mencapai jarak 1 meter, 2 meter dan lain-lain. Akhirnya perlombaan pun dimulai, katak-katak muda bersemangat menunjukkan kemampuan mereka melompat. Para penonton bersorak-sorai, namun ada pemandangan yang lain. Nampak diurutan terbawah ada katak muda kecil yang begitu santai memanjat bukannya melompat. Para penonton tidak menggubrisnya sama sekali karena sibuk melihat katak-katak lain yang sudah hampir setengah jalan. Kemudian dari kerumunan penonton ada yang berteriak “Ah, mana mungkin bisa sampai di atas sana, terlampau tinggi, mata kita saja tak mampu melihat di mana puncaknya.” Seketika itu para penonton pun bergumam keras “ Betul juga, kita saja tak mampu melihat puncaknya.” Mendengar teriakan para penonton, peserta yang sudah setengah jalan merasakan kegamangan.


Satu persatu dari mereka berjatuhan. “ Betul kan, mana mungkin bisa sampai puncak, rasanya mustahil.” Teriakan penonton makin lama makin keras, seiring dengan itu makin banyak pula katak-katak yang jatuh. Peserta yang jatuh merasakan begitu sulit mencapai puncak menara karena mata mereka juga tidak mampu melihat puncaknya. Eitss tapi tunggu dulu, mengapa tiba-tiba ada taburan bunga dari atas. Bunga berwarna-warni, harum pula baunya. Ternyata ada seekor katak yang turun dari atas dan menaburkan bunga-bunga sembari berteriak dengan riang, “ Aku menemukan bunga indah ini di atas sana, bunga yang kubagikan kepada kalian, hore, hore.” Para penonton dan peserta yang gagal karena terjatuh sontak kaget bukan kepalang. Mereka bertanya-tanya bagaimana katak yang satu ini bisa sampai di atas sana dan mengambil bunga yang elok dan harum padahal semuanya sudah merasakan ketidakmungkinan untuk mencapai puncak menara.

Kemudian ada penonton yang nyeletuk “ Bukankah itu katak muda yang memanjat tadi??” para penonton dan peserta pun penasaran ingin tahu apa rahasianya katak muda ini bisa sampai di atas kemudian turun dengan membawa bunga-bunga yang indah. Mungkin pertanyaan yang sama juga muncul pada benak para pembaca yang luar biasa. Saya memaklumi jika kita kalah dengan katak yang satu ini :>

Pasti para pembaca ikut penasaran dan menunggu jawaban dari katak muda. Hehehe. Tapi jangan salahkan saya jika jawabannya cukup menggemaskan. Ketika ditanya berulangkali katak muda itu hanya berkata, “ Aku tidak dapat mendengar apapun dan aku tidak mengerti apa yang kalian katakan karena aku tuli, sedari di bawah tadi aku senang memperhatikan kalian semua menyemangati bahkan ketika aku tertinggal jauh di bawah dan teman-teman peserta lain meninggalkanku untuk beristirahat. Tak jemu-jemu kalian menyemangati, aku mengucapkan banyak terimakasih. Taburan bunga tadi sebagai hadiah untuk kalian semua.” Para penonton dan peserta lainnya melongo. Anda juga melongo ??

Itu hanya lah sepenggal cerita namun mewakili hampir seluruh aspek kehidupan kita. Seperti di awal tulisan saya tadi mengenai ungkapan jarak antara benci dan cinta hanya setipis kulit ari. Bukan hanya cinta dan benci kalau kita mau menelaah lebih dalam. Kisah katak muda tadi menjadi contoh berapa banyak orang yang menyerah gara-gara teriakan tentang kesulitan, tentang ketidakmungkinan padahal kesuksesan hanya berjarak setipis kulit ari. Memang bukan berarti kita harus menjadi tuli seperti katak muda tadi, tetapi kerendahhatian mendengar kritikan, kata-kata pesimis, olokan lah yang patut kita praktekkan untuk tetap konsisten sehingga meraih kemudahan dalam mencapai kesuksesan. Bukankah gunung terasa datar jika kita telah mencapai puncaknya. Jadi yakinlah Tuhan berkarya dalam setiap usaha anda walaupun kadang terasa sulit tapi setelah dijalani dengan kerendahan hati dan rasa syukur maka kesuksesan terasa mudah dan pada akhirnya bisa bermanfaat pula bagi sesama. So, masih mau kalah dengan katak muda tadi ??Salam.

Anti Gagal

Kata-kata motivasi ini benar-benar anti gagal. Pemirsa tidak akan pernah mengalami kegagalan bila menerapkan kata-kata motivasi bijak berikut ini : 

“Saya tidak pernah gagal. 1000 percobaan yang saya lakukan dalam menemukan lampu, itu bukanlah kegagalan. Saya berhasil menemukan bahwa ada 999 bahan lampu yang tidak cocok” (Thomas Alfa Edison)

“Kalau prinsip Anda Belajar atau Sukses, maka Anda tidak akan pernah Gagal”

“Anda tidak akan pernah gagal bila Anda terus bergerak/berusaha”

“Saya pernah beberapa kali berusaha, dan saya tau kalau usaha-usaha saya yang dulu itu tidak cocok dengan saya, dan akhirnya usaha inilah yang cocok buat saya.”

“Anda diTOLAK!! Selamat!! Anda berhasil mengumpulkan lagi voucher untuk Keberhasilan Anda!!”

“Anda JATUH!! Selamat!! Anda akan segera Naik ke Tempat Yang Lebih Tinggi!!

“Siapapun dan Apapun yang tidak membuatku Jatuh, Membuatku makin Bertambah Kuat.”

Pemirsa!! Bagaimana?! Saya pernah mengalami apa yang saya sharingkan, saya pernah jatuh, saya pernah terjerambab, saya pernah tenggelam, saya pernah “dipukul jatuh”, saya pernah dalam gelap, Namun, semua itu, tidak ada artinya, Justru semua itu menjadi cerita-cerita manis yang menghiasi hidup saya dan juga generasi saya berikutnya!!

Apakah Pemirsa masih takut untuk Gagal? Tidak ada pernah Kata Gagal bila Pemirsa menerapkan kata-kata bijak motivasi yang disharingkan di atas…

Tdak percaya??

Mau tau Rasanya Lezatnya Makanan? Caranya dengan Memakannya sendiri,bukan dengan mendengarkan cerita orang.

master motivasi.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes